Guru Dipecat di Bone, AGHI Bandung: Nasib Honorer Seperti Telur di Ujung Tanduk

hervina-34-guru-honorer-16-tahun-di-bone-sulsel-dipecat-karena-posting-gaji-rp-700000-dok-istimewa_169

Bandung – Nasib malang yang menimpa Hervina (34), seorang guru honorer yang sudah mengajar selama 16 tahun di SDN 169 Desa Sadar, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel), menjadi sorotan nasional.

Ia dipecat oleh kepala sekolah SDN 169 Desa Sadar setelah mengunggah foto gajinya Rp 700 ribu di media sosial. Tak lama kemudian, Disdik Bone mengklafirikasi pemecatan Hervina bukan karena unggahannya, tapi karena adanya guru PNS yang hendak masuk ke sekolah tersebut.

Ketua Asosiasi Guru Honor Indonesia (AGHI) wilayah Kota Bandung Iman Supriatna mengatakan nasib guru honorer selalu berada di posisi dilema. Di satu sisi memikul tanggung jawab yang besar sebagai garda terdepan dalam mencerdaskan bangsa, tapi di sisi lainnya posisinya di ujung tanduk.

“Sekolah pasti akan mendahulukan PNS. Itu pun yang membuat galau seluruh honorer di Indonesia, ketika ada PNS yang baru datang. Pasti honorer tersingkir, seharusnya pihak sekolah atau yang lebih baik dinas pendidikan setempat dapat mencarikan solusi dengan menghitung jumlah pegawai/PNS di masing-masing daerah dan jumlah guru honor di tiap instansi, sehingga penempatan PNS yang baru bisa ditempatkan di daerah atau tempat yang kurang gurunya,” kata Iman saat dihubungi detikcom, Sabtu (13/2/2021).

“Nasib honorer memang seperti telur di ujung tanduk. Kalau melihat fakta sebenarnya, bahwa honorer adalah pahlawan garis depan di bidang pendidikan bisa dilihat hampir seluruh sekolah menggunakan tenaga dan pemikiran honorer, terutama operator sekolah. Dengan demikian diharapkan pemerintah daerah bijak dalam menempatkan PNS di tiap sekolah,” ujar Iman menambahkan.

Rizki Safari Rakhmat dari Forum Guru Honorer Bersertifikasi Sekolah Negeri (FGHBSN) Jawa Barat menilai, seandainya alasan dipecatnya Hervina karena ada guru PNS yang datang, seharusnya pihak sekolah membuat pengumuman jauh-jauh hari sebelumnya.

“Atau kepseknya memanggil terlebih dulu. Kemudian ditugaskan mengajar mata pelajaran lainnya atau dipindahtugaskan ke sekolah lain yang kekosongan PNS. Saya rasa kalau ada kepsek, ada bentuk perlindungan dan menghargai pengabdiannya, pasti kepsek berusaha mempertahankannya atau berkoordinasi dengan MKKS barangkali bisa ditempatkan ke sekolah lain,” tutur Rizki.

 

Sumber : https://www.detik.com/

Artikel Terkait

iklan02

Nasional

iklan02
iklan02

Opini

home2

Daerah

home2